Raja Thailand Mencabut Gelar Permaisurinya

Raja Thailand Mencabut Gelar Permaisurinya

Raja Thailand Mencabut Gelar Permaisurinya – Berita terkini datang dari negara asia Thailand. Bukan membicarakan pemerintahannya, melainkan kerajaan yang ada di Thailand. Baru-baru ini Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mencabut gelar dan pangkat para permaisurinya. Bukan karena tanpa alasan, tentu pencabutan gelar ini pasti karena ada sebuah permasalahan yang membuat Raja melakukan kebijakan tersebut. Raja mencabut gelar tersebut karena selir berperlaku buruk dan tidak setia.

Hal ini terjadi sejak Sineenat Wongvajirapakdi permaisuri raja melakukan tekanan kepada raja dan ratu. Itu membuat raja menganggap Sineenat terlalu ambisius dan mengangkat dirinya sama seperti ratu. Sineenat memang diangkat sebagai permaisuri sejak Juli setelah Raja menikahi istri ke-4 nya.

Raja Thailand Mencabut Gelar Permaisurinya

Sineenat melakukan tindakan yang cukup membuat Raja marah karena menganggap ini pembangkangan. Ia melakukan perlawanan untuk menghentikan penunjukan ratu. Entah karena apa permaisuri melakukan itu, tetapi tetap saja raja tidak menyukai tindakan tersebut. Raja sudah memberikan pangkat permaisuri kepadanya untuk mengurangi tekanan dan masalah yang dapat berdampak buruk nantinya untuk monarki.

Karena ulahnya Raja memerintahkan permaisuri melepaskan semua gelar kerajaan, penghargaan dan status pangkat militernya. Mungkin anda belum tahu tentang siapa Sineenat ini. Sineenat adalah seorang mayor jendral dan pilot yang cukup terlatih. Tidak hanya itu saja, sineenat juga unggul dalam bidang perawat dan pengawalan. Ia adalah orang pertama yang dinobatkan gelar Royal Noble Consort.

Gelar dan Pangkat Dilepas

Gelar permaisuri yang didapatkan sineenat kini telat di copot secara paksa karena ulahnya yang membangkak ini. Pengumuman tentang pencabutan gelar dan segala pangkat Sineenat sudah diumumkan di Royal Gazatte. Hal ini merupakan kejatuhan sang mantan permaisuri yang cukup memalukan. Karena sebelumnya sudah bertahun-tahun ia terlihat disisi sang Raja dan bahkan ia sudah menjadi tamu tetap di acara-acara kerajaan.

Karena kejadian ini, tidak hanya Raja saja, kebanyakan orang menilai Sineenat tidak mensyukuri gelar yang sudah diberikan sang raja untuknya. Sehingga bisa melakukan hal yang tidak masuk diakal dan tidak berkaca pada posisinya saat itu.

Perang Dagang Amerika dan China berdampak Bagi Indonesia

Perang Dagang Amerika dan China berdampak Bagi Indonesia

Perang Dagang Amerika dan China berdampak Bagi Indonesia

Bukan hal yang baru, sudah sejak 2018 perang dagang sudah mulai terdesar ke seluruh dunia. Sejak naiknya Presiden Donald Trump, ia mengancam untuk menaikan tarif import berbagai produk china. Karena ancama tersebut sudah menjadi bahasan publik di seluruh negara, China tidak menganggap itu sebagai ancaman, china malah melakukan hal yang sama kepada Amerika. Ancaman tarif import di kedua negara maju tersebut membuat dunia perdagangan gempar.

Namun di bulan Mei 2018 keduanya sepakat untuk mengembalikan tarif import keseperti semula. Mungkin karena terlalu banyak permintaan produk di keduanya dalam negara masing-masing, keduanya bersepakat untuk berdamai. Tetapi tidak berlangsung lama hanya sekitar sebulan saja perdamaian dagang itu berlangsung. Entah karena apa, keduanya mulai kembali memanas dan menaikan tarif import hingga tembus 2.800 Triliun. Karena masalah dagang dikedua negara tersebut, Indonesia terkena dampak dari perang dagang tersebut. Inilah dampak bagi Indonesia karena hal tersebut.

Perang Dagang Amerika dan China berdampak Bagi Indonesia

Ekspor Sawit Menurun

Ekspor sawit sangat menurun hingga 17 persen dari tahun lalu. Hal ini karena beberapa negara membuat kebijakan yang cukup ketat untuk kepentingan mereka masing-masing. Contohnya adalah seperti pemerintahan eropa yang melarang penjualan minya sawit dan Amerika yang meningkatkan bea masuk produk biodiesel.

Ekspor Otomotif Terhambat

Dari perang dagang kedua negara maju tersebut juga berdampak ke ekspor produk otomotif ke Vietnam. Pemerintahan Vietnam membuat kebijakan baru untuk impor otomatif ke negaranya. Indonesia yang sedang berjuang merayu pemerintahan cukup kesulitan padahal Vietnam adalah pasar ekspor otomotif yang cukup menguntungkan.

Ekspor Alumunium dan sejenisnya

Indonesia sudah banyak mengekspor besi, baja, dan alumunium ke negara Amerika. Karena keduanya masih cukup memanas dalam strategi dagang, Indonesia menjadi negara pengalihan karena masalah tersebut. Ekspor dan Import jadi terganggu saat ini.

Ekspor di Sektor Industri Tekstil

Dampak lainnya dari masalah tersebut adalah Amerika memutuskan kebijakan ekspor dengan mencabut GSP di sektor industri tekstil.

Selain dampak negatif, ada juga dampak positif dari masalah kedua negara tersebut yaitu Indonesia cukup berpeluang besar untuk menggantikan produk yang dibutuhkan oleh kedua negara tersebut.

Berita ini dipertegas oleh salah satu media dari Indonesia juga yaitu liputan6 yang menyatakan perang dagang pada beritanya di Perang Dagang AS vs China Berdampak ke Indonesia.